Minggu, 07 September 2008


Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Kadarzi

Sabtu, 30 Oktober, 2004

oleh: Gsianturi


Pertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Kadarzi

Gizi.net


- Kesepakatan dan Tindak LanjutPertemuan Advokasi Program Perbaikan Gizi Menuju Kadarzi Jakarta 26 – 28 September 2004

Kesepakatan:

- Keadaan gizi masih memprihatinkan, masalah gizi antar wilayah beragam, perlu pendekatan spesifik.

- Gizi adalah investasi, merupakan fondasi yang amat penting untuk meningkatkan produktivitas, dan SDM sehingga perlu diprioritaskan

- Gizi merupakan bagian dari pembangunan daerah sehingga kadarzi 2010 menjadi isu sentral - Gizi, merupakan salah satu bidang yang kewenangannya bisa diserahkan kepada daerah, oleh karena itu desentralisasi, sebagai salah satu peluang dalam mepercepat penurunan masalah gizi dengan pendekatan spesifik wilayah.

- Kendala yang dihadapi terbatasnya kemampuan keuangan daerah, sehingga diperlukan;

a. Penggalian dana masyarakat

b. Relokasi kearah kegiatan yang berdaya guna dan berdasarkan data dan fakta yang akuratc. Sinkronisasi penganggaran (APBD/APBN) serta perbaikan sistem penganggaran

- Status pendidikan yang rendah merupakan faktor utama penyebab masalah gizi, di samping terbatasnya ketersediaan pangan dan kemiskinan. Pendidikan yang rendah berdampak pada perilaku gizi yang salah

- Keluarga sebagai unit sosial subyek pembangunan maupun sebagai kesatuan bio-sosial manusia, merupakan target utama yang sangat strategis untuk merubah perilaku gizi kea rah yang benar.

- Keluarga Sadar Gizi (KADARZI), merupakan tujuan antara dalam rangka meningkatkan status gizi. Oleh karena itu seluruh program perbaikan gizi diarahkan mencapai keluarga sadar gizi. Untuk mencapai keluarga sadar gizi, seluruh komponen masyarakat harus bergerak secara terpadu untuk kesejahteraan masyarakat - Peserta sepakat bahwa Keluarga Sadar Gizi (Ladarzi) merupakan sasaran program perbaikan gizi dalam rangka meningkatkan pencegahan dan penanggulangan masalah gizi kurang dan lebih.

- Untuk melembagakan kadarzi disepakati melalui revitalisasi posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dan pelayanan edukasi.

- Perencanaan dan penganggaraan program perbaikan gizi menuju koordinasi di tingkat kabupaten/kota dikoordinir oleh Bapeda, dan di tingkat Pusat dikoordinir oleh Bapenas

- Pendanaan program perbaikan gizi perlu sinkronisasi berbagai sumber dana (masyarakat), APBD, APBN, Donor, Swasta

Tindak Lanjut :

Propinsi:

- Pada tahun 2005 masing-masing propinsi menyusun rencana aksi Gizi Propinsi (RAGP) mengacu pada RAGN

- Melaksanakan advokasi secara terus menerus kepada kabupaten/kota (Bupati/walikota, DPRD) dengan sumber dana dekonsentrasi yang difasilitasi oleh propinsi dengan narasumber Pusat.

- Melakukan Capacity Building terhadap kabupaten/Kota

- Mengembangkan KIE berbasis kompentensi dan masalah local

- Memperkuat kelembagaan koordinasi penanganan masalah gizi

- Menjalin kemitraan dengan LSM, organisasi profesi

- Memperkuat system informasi dan surveilans gizi

- Melakukan revitalisasi posyandu

- Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi serta rujukan berbasis kompetensi

Pusat:

- Menyediakan dana dekon untuk advokasi ke kabupaten dalam rangka menyusun RAGP

- Menyusun RAGN bersama sector dan program terkait

- Melakukan capacity building

- Melakukan bimbingan dan asistensi ke propinsi dan kabupaten/kota

Kamis, 10 Juli 2008

Hubungan "Otak Kosong" dengan Gizi Buruk


INDONESIA harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi, 80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun.


Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu. Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.


Menurut ahli gizi Ir. Tatang S. MSc, seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat memasuki sekolah.


Hal itu dibenarkan oleh Dr. Soesilawati dari Rumah Sakit Mitra yang berpendapat bahwa perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh faktor makanan yang dikonsumsi. ”Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja,” ujar Soesilowati menjelaskan.


Gizi Pendukung OtakAsam lemak esensial omega 3 merupakan zat yang berperan vital dalam proses pertumbuhan sel-sel neuron otak untuk bekal bayi yang dilahirkan. Ibu hamil masa kini dapat mengonsumsinya melalui banyaknya produk susu khusus ibu hamil. Asam alfa linoleat (LNA), eikosapentaetonat (EPA) serta dohosaheksaenoat (DHA) adalah tiga bentuk asam omega 3 yang telah masuk dalam proses elongate (dipanjangkan) dan desaturate (diubah menjadi tidak jenuh).”Produk-produk susu yang mengklaim dirinya mengandung DHA atau omega 3 perlu diuji dulu secara klinis untuk membuktikan kebenarannya. Mungkin memang produk itu mengandung zat yang disebut tapi tentu hanya dalam jumlah kecil saja,” komentar Tatang. Ia menganjurkan agar baik anak-anak maupun ibu hamil lebih banyak mengonsumsi sumber-sumber alami dari semua gizi yang dibutuhkan tubuh. Asam lemak omega 3 banyak terdapat dalam ikan atau minyak ikan. Begitu juga protein yang terdapat pada kacang-kacangan, telur, dan ikan.


Sementara zat besi tidak kalah penting dalam menunjang kerja otak. Kekurangan zat besi bisa mengurangi produksi sel darah merah. Remaja perempuan yang kurang mengonsumsi zat besi cenderung mempunyai IQ rendah, demikian hasil riset terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari King’s College, London. Ada hubungan signifikan antara rendahnya level hemoglobin dengan performance mental seseorang. Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang memainkan peran penting dalam transportasi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Maka zat besi menjadi komponen esensial bagi hemoglobin. Tanpa mendapat tambahan zat besi maka tubuh kita tidak mampu menghasilkan jumlah sel darah merah yang cukup. Inilah mengapa perempuan hamil dan perempuan pekerja membutuhkan asupan zat besi. Perempuan hamil memerlukannya dua kali lebih banyak dari saat dirinya tidak hamil. Sedangkan perempuan pekerja membutuhkan tambahan zat besi karena di samping melakukan kegiatan sehari-hari yang lumayan keras, ada masa menstruasi yang menyebabkan mereka terancam anemia.


Riset yang dilakukan Dr. Michael Nelson dari Inggris membuktikan bahwa perempuan pekerja yang menderita anemia mempunyai poin IQ lebih rendah daripada yang tidak menderita anemia.”Untuk mendapatkan zat besi secara alamiah bisa dengan cara memakan sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan dan ikan. Jika memang mampu akan lebih baik didukung dengan asupan zat besi yang sudah banyak dijual bebas,” ujar Soesilowati.Sementara Dr. Nelson menjelaskan bahwa korelasi antara zat besi dengan kecerdasan sangat sederhana. Kurangnya zat besi akan mengurangi jumlah hemoglobin. Otomatis hal ini membuat suplai oksigen terhambat ke otak dan membuat otak tidak bisa bekerja secara optimal. Bagaimanapun juga jumlah enzim yang mengatur sinyal transmisi ke otak juga bergantung pada zat besi. ”Penyerapan zat besi akan lebih efektif jika kita juga mengonsumsi vitamin C dalam jumlah cukup,” ujar Soesilowati.


Asupan Gizi Banyaknya produk suplemen vitamin yang kini beredar secara bebas bisa berdampak baik sekaligus berdampak buruk. Menurut Tatang, suatu produk suplemen harus menjalani uji klinis dulu sebelum dipasarkan. Ia menegaskan agar kita tidak terlena begitu saja dengan rayuan iklan yang terlalu bombastis.Tapi di sisi lain produk suplemen yang memang bisa dipercaya kebenarannya sangat berguna bagi kebanyakan orang yang tidak sempat mendapatkan gizi tersebut dari makanan sehari-hari. ”Lebih baik kalau berbagai kebutuhan gizi didapat dari makanan langsung, bukan asupan atau suplemen yang dijual bebas. Sebab tak seorang pun yang bisa menjamin keamanannya,” tambah Soesilawati. ”Kecuali kalau asupan itu memang dianjurkan oleh dokter atau didapat dari dokter.”Sedangkan anak usia 0-2 tahun sebaiknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI).


Seperti yang dikatakan Tatang bahwa ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan dalam perkembangan otak anak.Banyak produk susu kaleng atau susu formula yang dalam iklan disebutkan mengandung asam linoleat, DHA dan sebagainya. Namun sampai detik ini tidak ada bukti yang bisa berkata bahwa susu formula mampu menyamai khasiat ASI.(mer)



Copyright © Sinar Harapan 2002


Selasa, 26 Februari 2008


Tips Membunuh Kuman pada Susu
Rabu, 27 Februari 2008 - 10:36 wib
Arpan Rachman - Okezone


PALEMBANG - Dugaan ditemukannya kontaminasi bakteri Enterobacter Sakazakii pada produk susu formula yang dijual bebas di pasaran, ternyata disikapi pasif oleh pihak Balai Besar Pengawasan Obat dan Minuman (BPPOM) Palembang.


Kepala BPPOM Palembang, I Made Kawi Sukayada, menyatakan belum mendapat instruksi dari BPPOM Pusat soal temuan racun berbahaya tersebut."Belum ada instruksi produk susu mana yang harus ditarik dari pasaran terkait hasil penelitian tersebut.


Tapi kita juga tidak akan menunggu instruksi. Dalam waktu dekat kita akan mengambil beberapa sample susu untuk diteliti sendiri," ucap Made, Rabu (27/2/2008).


Kepala BBPOM Palembang itu bahkan memberikan tips kepada konsumen soal kuman pada produk susu formula, yang dapat diantisipasi menggunakan air rebus pada tingkat panas lebih 70 derajat. "Kita imbau warga agar membuat susu dengan air hangat di atas 70 derajat untuk membunuh kuman sebagai langkah antisipasi," imbuhnya.


"Hasil penelitian dari IPB kan masih perlu dibuktikan lebih mendalam. Masalahnya, mereka hanya mengambil sampling 22 item produk susu untuk diteliti. Hasilnya, hanya 20 persen dari 22 item yang mengandung kuman. Sedang produk susu di Indonesia mencapai ratusan," pungkas Made. (mbs)

SUSU TERCEMAR
Awas! Ada Racun di Susu Formula Bayi
posted by kontan on 02/20/08


BOGOR. Waduh, gawat! Para orang tua tampaknya mesti berhati-hati memberikan susu dan makanan kepada bayinya.


Peringatan ini setidaknya datang dari hasil penelitian Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian itu menemukan 22,73% dari 22 sampel susu formula dan 40% dari 15 sampel makan bayi yang mulai dipasarkan antara April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii.


Asal Anda tahu saja, bakteri sakazakii ini bukan hanya mengakibatkan bayi menderita radang usus. Lebih dari itu, sebuah penerbitan di Korea Selatan menyebutkan, sakazakii bisa membuat korban lumpuh dan menghambat perkembangan mental bayi.


Penelitian IPB ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, mengisolasi dan mengidentifikasi sakazakii dalam 22 susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Tahap kedua, menguji 12 bakteri sakazakii yang ditemukan dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan racun melalui uji sitolisis (penghancuran sel). Hasilnya dari 12 bakteri yang terisolasi itu, enam diantaranya menghasilkan racun (enteroksin).


Selanjutnya, tim peneliti ini menguji bakteri mengeluarkan racun saat dipanaskan. Hasilnya lima dari enam bakteri tersebut ternyata mampu mengeluarkan racun setelah dipanaskan.


Tim peneliti kemudian mengujicobakan bakteri tersebut baik yang belum maupun sesudah dipanaskan kepada bayi tikus. yang berumur enam hari. Setelah tiga hari disuplai dengan bakteri tersebut hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Ternyata, bayi tikus tersebut terkena radang saluran pencernaan, infeksi peredaran darah dan meningitis alias infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak.


Sri Estuningsih, Juru Bicara Tim Peneliti IPB ini mengatakan produk susu formula dan makanan bayi yang terkontaminasi bakteri mengerikan ini berasal dari produk lokal. Sayang, dia urung mengungkapkan merek susu dan makanan bayi yang berbahaya itu. Oleh karena itu, dia menyarankan agar orang tua berhati-hati karena susu formula dan makanan bukan produk yang steril. "Penggunaan dan penyimpanannya perlu perhatian khusus agar tidak terjadi infeksi saat mengkonsumsi produk tersebut," katanya, kemarin (19/2).


Estuningsih telah melihat langsung sebuah pabrik perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia. Dia menyatakan sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar operasi.


Edy Can, Antara


-->

”Tak Ada Pabrik yang Terbebas dari Sakazakii”
Budi Satrio Isman, Direktur Utama Sari Husada:

PERSOALAN sepertinya masih enggan menjauh dari PT Sari Husada (SHDA). Menjelang hengkang dari Bursa Efek Jakarta, pabrik susu terbesar ini diterpa kabar tak sedap. Menurut Rolland Haas, pemegang saham minoritas SHDA, pabrik Sari Husada telah ter-cemar enterobacter sakazakii.


Gara-gara bakteri itu, lanjut Rolland, Sari Husada pernah menghentikan salah satu pabriknya di Yogyakarta (TRUST edisi 21-5). Kabar tak sedap itulah yang membuat manajemen SHDA bak kebakaran jenggot. Maklum, bakteri ini bukan hanya mengakibatkan bayi menderita radang usus.


Lebih dari itu, sebuah penerbitan di Korea Selatan menyebutkan, sakazakii bisa membuat korbannya mengalami kelumpuhan dan menghambat perkembangan mental. Makanya, ”Setelah berita itu beredar, banyak klien kami menanyakan kebenaran informasi itu,” ujar Budi Satrio Isman. Direktur Utama SHDA itu juga tak tahu dari mana informasi tak benar itu bisa keluar. Benarkah sakazakii telah menyerang pabrik milik Sari Husada? Berikut wawancara Kun Winasis dari TRUST dengan Budi Satrio Isman yang didampingi Sekretaris Perusahaan, Yeny Fatmawati, dan Ign. Ari Joko P., manajer PR. Petikannya:


PEMEGANG SAHAM MINORITAS PERUSAHAAN ANDA, ROLLAND HAAS, MENGATAKAN BAHWA PABRIK SARI HUSADA TERCEMAR BAKTERI ENTEROBACTER SAKAZAKII.

Saya sendiri tidak tahu informasi itu berasal dari mana. Mungkin Rolland yang bisa menjawabnya. Yang jelas, sekarang kami sedang melakukan perubahan mendasar terhadap seluruh sistem yang ada di perusahaan ini. Termasuk pembenahan di bidang sumber daya manusia. Mungkin akibat kebijakan tersebut, ada pihak-pihak yang keberatan. Sehingga muncul kabar seperti ini.


BAGAIMANA PROSES PRODUKSI DI SARI HUSADA?

Begini. Saat menerima bahan baku, kami akan langsung mengecek apakah sesuai dengan spesifikasi atau tidak. Di situ sudah ada quality control. Kalau tidak sesuai, akan kami reject. Perlu Anda ketahui, proses pembuatan bubuk susu ini cukup panjang. Tahapannya banyak. Di dalam setiap tahapan itu juga dilakukan quality control. Terakhir, ketika susu masuk ke kotak, kami juga melakukan pengecekan ulang. Jadi sistem kontrol kualitasnya berlapis-lapis.


JIKA PADA TAHAP TERTENTU DITEMUKAN MASALAH?

Kami akan melakukan pemeriksaan ulang. Yang tidak sesuai standar akan di-reject. Produk yang di-reject ini ada yang bisa diproses kembali dan ada yang tidak. Intinya, sebelum dirilis ke pasar produk kami sudah melalui tahap-tahap pengawasan yang ketat.


BAGAIMANA DENGAN INFORMASI BAHWA PABRIK ANDA MENGHENTIKAN PRODUKSI?

Definisi stop produksi itu harus jelas. Di Yogyakarta, kami punya dua pabrik. Di kotanya dan di daerah Kemudo (Klaten). Di Yogya itu kami memiliki dua drier (pembuat bubuk susu). Sementara di Kemudo ada satu yang besar. Setiap tahun, kami selalu membuat perencanaan produksi. Nah, dalam production plan inilah ada yang namanya pemberhentian yang direncanakan. Cuma, itu tak berarti menghentikan produksi. Sebab kami menginginkan output sebanyak mungkin.


KAPAN PENGHENTIAN ITU DILAKUKAN?

Seperti kemarin, ketika terjadi gempa. Pada saat gempa terjadi, awalnya kami perkirakan produksi berhenti sampai 3 bulan. Ternyata, sebulan sudah berproduksi lagi, walaupun belum maksimal. Penghentian produksi ini bisa juga dilakukan pada hari libur dan hari raya. Jadwalnya sudah diatur, tidak bersamaan.


JADI PABRIK TIDAK ADA YANG BERHENTI BERPRODUKSI SELAMA 2007?

Mungkin ada salah satu yang kami hentikan. Itu normal saja. Tapi kami tidak menghentikan produksi. Output-nya selalu ada.


BEBERAPA WAKTU LALU ANDA MENGATAKAN BAHWA ATAP PABRIK BOCOR SEHINGGA PERLU PERBAIKAN. BISA DIJELASKAN?

Waktu itu kan di Yogya dilanda hujan lebat, bahkan sempat terjadi puting beliung. Pada saat itu, atap di salah satu mesin bocor. Makanya, kami menghentikan bagian mesin itu. Tapi produksi jalan terus. Kenapa itu kami lakukan? Jika tidak, risikonya, bakteri bisa masuk. Kami tidak ingin itu terjadi. Sebenarnya kita ingin demolish tempat itu. Karena butuh produksi, kami hanya menyetop mesin sementara.


JADI HAL SEPERTI ITU SUDAH BIASA?

Ya begitu. Seperti dua hari kemarin (minggu lalu, red) kami stop drier di Kemudo. Itu dilakukan untuk mengganti refrigerator dan radiatornya. Orang yang tidak tahu mungkin menganggap kita stop produksi. Padahal faktanya tidak demikian.


TERHADAP SETIAP PRODUK, APAKAH DILAKUKAN PENGECEKAN RUTIN OLEH BPOM?

Tidak rutin. Tapi itu dilakukan BPOM. Selain itu, kami juga melakukan quality audit. Bahkan, minggu ini kami akan melakukan audit proses tahunan. Pokoknya, kami tidak akan menutup-nutupi apa yang ada di perusahaan ini.


KABARNYA ANDA MEMINTA PABRIK KIVIET DI SALATIGA UNTUK MEMPRODUKSI BUBUK SUSU BUAT SARI HUSADA?

Kami memang datang ke mereka dan sudah melakukan pembicaraan. Tapi, kerja sama dengan Kiviet sudah lama kami lakukan. Ketika terjadi gempa tahun lalu, kami meminta mereka memproduksi susu buat Sari Husada. Tentang kedatangan kami tadi, hal itu karena rencananya kami akan melakukan maintenance pabrik. Sesuai Jadwal, Juli nanti mungkin ada pabrik kami yang berhenti 7 hari.


BAGAIMANA RESPONS MORINAGA DAN NUTRICIA MENDENGAR KABAR ADANYA SAKAZAKII INI?

Mereka tentu bertanya. BEJ dan Bapepam pun meminta klarifikasi kepada kami. Tapi setelah kami jelaskan secara detail, mereka bisa mengerti.


ARTINYA MORINAGA DAN NUTRICIA MASIH TETAP MENDAPAT PASOKAN BUBUK SUSU?

Sampai saat ini masih berjalan dengan baik. Tidak ada yang berubah.


MEMANGNYA BERAPA BANYAK PASOKAN BUBUK SUSU BUAT KEDUA PERUSAHAAN ITU?

Tidak terlalu banyak. Mungkin sekitar 12% dari total produksi. Sebagian besar kami pakai sendiri. Angka pastinya nanti ya.


PRODUK SUSU ANDA DIUJI DI LABORATORIUM CLF (CENTRAL LABORATORIES FRIEDRICHSDORF). BUKANKAH LABORATORIUM INI 100% MILIK NUMICO BV, PEMEGANG SAHAM SARI HUSADA?

Setahu saya memang begitu.


SEBENARNYA BAGAIMANA DENGAN SAKAZAKII ITU?

Enterobacter sakazakii ini termasuk bakteri baru yang ditemukan oleh orang Jepang. Sebetulnya, bahaya bakteri ini bisa diperkecil, jika kita tahu cara menanganinya. Perlu diketahui, sakazakii ini ada di mana-mana. Seperti susu yang sudah bekas, kemungkinan besar terjangkit bakteri ini. Air yang Anda minum itu juga bisa mengandung sakazakii.


ARTINYA TIDAK MUNGKIN PABRIK ANDA TERBEBAS DARI SAKAZAKII?

Jujur saya katakan, itu tidak mungkin. Pabrik susu di mana pun enggak ada yang terbebas dari bakteri ini. Sakazakii me-nyerang bayi yang lahir prematur. Makanya, untuk mengatasinya kami terus berusaha memperketat kualitas produk yang dikonsumsi oleh bayi. Dengan cara seperti itu, kami berharap sakazakii tidak ada atau di bawah ambang batas yang diperbolehkan kesehatan. Hanya, saat ini, soal berapa batas maksimal yang diperbolehkan, belum diatur oleh BPOM.


BAGAIMANA SISTEM QUALITY CONTROL DI SARI HUSADA?

Saat ini kami terus berusaha meningkatkan kualitas produk kami. Kalau Anda datang ke pabrik kami, di sana tim dari R&D dan quality control sedang melakukan sosialisasi masalah sa-kazakii ini. Bisa jadi, orang yang tidak tahu mengira bahwa di pabrik tersebut sudah tercemar sakazakii. Kami ingin menyamai standar yang ada di perusahaan farmasi.


BAGAIMANA ITU DILAKUKAN?

Seperti masalah pakaian, akan diperketat. Karyawan itu harus memakai pakaian seperti astronaut, sangat steril. Kami juga membagi lokasi menjadi beberapa zone. Misalnya zone kuning dan zone merah. Di zone merah, tingkat sterilisasinya sangat tinggi.


OH YA, BAGAIMANA SOAL TENDER OVER ITU. APAKAH SEMUA PEMEGANG SAHAM MINORITAS MENJUAL SAHAMNYA?

Tidak. Tapi sekarang hampir 99,8% saham Sari Husada sudah dikuasai Numico. Tanggal 27 besok akan dilakukan pembayaran.
Selasa, 26/02/2008 15:27 WIB
Peneliti IPB siap serahkan hasil riset ke Badan POM
oleh : Antara

BOGOR: Tim peneliti IPB siap menyerahkan hasil riset temuan susu formula dan makanan bayi yang telah terkontaminasi "Enterobacter sakazakii" kepada Departemen Kesehatan (Depkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Kami sangat kooperatif dan siap menyerahkan hasil lengkap penelitian itu. Namun perlu disampaikan bahwa para peneliti ini, umumnya sudah bergelar doktor sehingga proses dan tahapan ilmiah serta metodologi penelitian yang dilakukan sesuai kaidah yang ada," kata Dr drh I Wayan T Wibawan, MS, salah satu tim peneliti IPB dalam riset itu, Selasa. Tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mendapatkan temuan bahwa 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi "Enterobacter sakazakii". Dihubungi ANTARA saat berada di Surabaya Jawa Timur, ia memberikan pernyataan itu saat diminta tanggapan atas reaksi Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari, yang mempertanyakan hasil penelitian yang dilakukan IPB tersebut.
Pertanyaan Menkes terkait dengan pendanaan dan motivasi melakukan penelitian itu. Bahkan Menkes mempertanyakan status peneliti yang adalah dokter hewan. Dikatakan Menkes, pihaknya telah meminta laporan BPOM mengenai penelitian ini. "Penelitian itu signifikan atau tidak. Siapa yang meneliti, caranya bagaimana, pendanaannya bagaimana.
Kenapa yang diperiksa susu itu. Apakah perusahaannya hanya sekitar itu," kata Menkes. Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib memastikan semua produk susu formula dan makanan bayi yang saat ini beredar di pasaran tidak tercemar bakteri jahat dan aman dikonsumsi. "BPOM melakukan pemeriksaan mikrobiologi terhadap sampel produk tersebut sepanjang tahun untuk mendeteksi kemungkinan adanya cemaran mikrobiologi, kalau produk yang bersangkutan ternyata bermasalah kita panggil produsennya dan minta mereka memperbaiki produknya," katanya.
Dana riset Depdiknas Sebelumnya, Dr drh Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti IPB menyebutkan bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal. Mereka yang tergabung dalam tim penelitian itu adalah staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yakni drh Hernomoadi Huminto MVS, Dr drh I Wayan T Wibawan, dan Dr Rochman Naim.
Menurut I Wayan T Wibawan, pada awalnya sebenarnya riset itu mendapatkan tanggapan positif dalam sebuah pertemuan yang diadakan pada tanggal 22 Pebruari 2008, yang mempertemukan wakil IPB, Departemen Pertanian, Depkes dan BPOM, dan kemudian ada kesepakatan untuk membentuk tim gabungan guna menindaklanjuti perkembangan selanjutnya. Bila kemudian muncul reaksi terbaru dari Menkes, ia sendiri juga heran.
"Mestinya riset semacam ini ditanggapi sebagai masukan untuk kemudian bersama-sama mencari solusinya. Kalau tanggapannya soal teknis dan metodologi penelitian, ini menjadi kontra-produktif karena peneliti yang sudah doktor di perguruan tinggi, tidak perlu diajari metodologi penelitian lagi," katanya. Dikemukakannya bahwa riset itu pendanaannya berasal dari dana hibah bersaing Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, sehingga jelas tidak mempunyai kepentingan apapun, selain bagi kepentingan ilmu pengetahuan sendiri, yang juga punya kewajiban moral untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
"Saya tegaskan, tidak ada kepentingan apapun dari penelitian ini, selain konteks ilmu pengetahuan karena IPB adalah lembaga pendidikan tinggi," kata I Wayan T Wibawan, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB itu. Ia menjelaskan, hasil riset itu juga telah dipaparkan di Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan kepada Masyarakat (LPPM) IPB, yang selama ini menjadi wadah "pengujian" bagi riset-riset yang dilakukan di hampir semua lingkungan IPB. Sekali lagi ditegaskannya, agar pihak-pihak yang mempertanyakan riset itu mendapatkan hasil yang utuh, direncanakan pada hari Kamis (28/2) tim peneliti akan menyerahkan laporan lengkap penelitian itu kepada Depkes dan BPOM. (dj)
News


Berita Utama


Penelitian Susu Berbakteri Dibiayai APBN
Rabu, 27/02/2008

BOGOR (SINDO) – Rektor IPB Dr Ir Herry Suhardiyanto membantah tudingan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari yang mencurigai adanya hidden agenda di balik penemuan bakteri enterobacter sakazakii dalam susu formula anak dan bubur bayi.


”Penelitian tersebut dibiayai APBN yang didahului dengan pengajuan proposal guna kajian ilmiah perguruan tinggi dan kepentingan masyarakat,” ujarnya kepada wartawan di Kampus IPB Dramaga, Bogor, kemarin. Tak hanya itu, Herry menjelaskan bahwa penemuan bakteri enterobacter dalam susu formula dan makanan bayi tersebut bukan mengada-ada.


Penelitian itu murni kepentingan ilmiah dan masyarakat banyak. Jadi, menurutnya, biarlah pihak yang berwenang, yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang menyatakan sah atau tidaknya hasil penelitian tersebut.


”Yang jelas, berdasarkan hasil penelitian, tim kami benar adanya telah ditemukan bakteri dalam sampel-sampel susu formula dan makanan bayi yang diteliti itu. Kami dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan pihak departemen terkait, yakni Departemen Pertanian, Badan POM, dan Departemen Kesehatan pada Kamis (28/2) mendatang,” jelasnya.


Senada, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Komisi IX DPR melihat tidak ada agenda tersembunyi yang dikhawatirkan pemerintah—dalam hal ini Menkes. Mereka menilai pemerintah terlalu membawa masalah penelitian produk khusus bayi ke dalam ranah politik.


”Saya lihat apa yang dilakukan peneliti di IPB ya hanya pure meneliti karena mereka memang pekerjaannya seperti itu. Kita tidak lihat ada agenda tersembunyi apapun, itu terlalu politis,” jelas Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BPOM Chusosi Syakur.


Menurut dia, para peneliti di IPB memang kerap melakukan pengujian atau penelitian terhadap berbagai produk makanan atau minuman. Biasanya mereka terus berkoordinasi dengan BPOM untuk memberi tahu hasil penelitian tersebut. Penelitian ini difokuskan pada kesesuaian persyaratan yang diterapkan BPOM dengan produk yang dijual di pasaran.


Seperti kendali mutu terhadap tanggal produksi, kandungan bahan, dan lainnya. Pihaknya pun tidak melihat adanya agenda tersembunyi jika para peneliti di IPB akan menjatuhkan salah satu produsen produk makanan bayi. ”Kami tidak lihat sejauh itu,” ujarnya.


Terkait langkah pengumuman produk makanan yang dianggap berbahaya bagi masyarakat tapi tidak segera diumumkan, dia menjelaskan hal itu masih dalam tahapan koordinasi dengan BPOM.


”Kalau IPB mau mengumumkan, silakan. IPB sebetulnya punya hak untuk mengumumkan masalah itu,” terangnya. Namun, pihaknya menyarankan agar koordinasi dilakukan dengan BPOM yang merupakan lembaga berwenang. Karena itu, saat ini pihaknya masih terus melakukan koordinasi dengan peneliti IPB untuk memperjelas hasil penelitiannya. Rencananya, pengumuman penelitian IPB akan dilakukan sesegera mungkin.


”Kalau dikabarkan Kamis akan diumumkan ya nanti kami undang, tunggu saja,” ujarnya. Dia menjelaskan pihaknya tidak mau gegabah dalam melakukan penarikan sebuah produk makanan atau minuman. Sebab, hal ini menyangkut kepentingan banyak pihak, termasuk dikhawatirkan dapat menimbulkan keresahan di kalangan pelaku bisnis makanan atau minuman.


Anggota Komisi IX DPR Hakim Sorimuda Pohan menilai, pemerintah (Menkes) terlalu reaktif menyikapi penelitian yang dilakukan pihak IPB. Menurut dia, seharusnya pemerintah yakni Depkes memberikan langkah konkret dengan menurunkan tim khusus untuk melihat hasil penelitian IPB tersebut. Kemudian, mendatangi produsen produk makanan bayi yang diindikasikan melakukan penyimpangan.


”Nanti bisa terlihat apakah produsen itu memang tidak benar dari awal atau mungkin mereka sudah benar di awal tapi terpengaruh karena cuaca buruk seperti sekarang,” terangnya. (haryudi/susi susanti)

Senin, 25 Februari 2008


PENGEMBANGAN PROFESI AHLI GIZI DI INDONESIA

Edith. Sumedi,SKM, M.Sc - DPP PERSAGI Pusdiknakes, Jakarta -


PENDAHULUAN


Ahli Gizi Indonesia dalam mendarmabaktikan keahliannya tergabung dalam organisasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). PERSAGI, didirikan tanggal 13 January 1957 dengan nama semula Persatuan Ahli Nutrisionis Indonesia. Kemudian disempurnakan pada tanggal 19 November 1989 menjadi Persatuan Ahli Gizi Indonesia.


PERSAGI menjadi organisasi profesi yang besar di Indonesia dan mempunyai anggota di setiap kabupaten. Ahli Gizi di Indonesia mulai berkiprah sejak tahun 1957 dengan dipelopori oleh dr.Poorwo Soedarmo yang melahirkan slogan "4 sehat 5 sempurna", seiring dengan kebutuhan program pembangunan kesehatan dan perkembangan ilmu gizi, tenaga gizi dididik pada Akademi Gizi dan bergelar Bachelor of Science.


Pada saat itu lulusan Akademi Gizi disetarakan dengan B.S dari luar negeri sehingga dapat langsung melanjutkan pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi seperti mengikuti pendidikan Master diluar negeri (Amerika, Philippines,Australia, Inggris) Namun pada tahun 1986 Akademi Gizi diubah programnya menjadi program diploma (D-3), akibat dari perubahan ini maka lulusan Akademi Gizi tidak mendapatkan kesetaraan pendidikan lagi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Menyadari kekurangan tersebut maka organisasi profesi gizi dalam hal ini PERSAGI, berusaha keras untuk dapat berdiri sejajar dengan profesi gizi di luar negeri agar para ahli gizi yang tergabung dalam organisasi profesi gizi dapat ikut berperan aktif dalam era globalisasi dunia.


Kompleksitas masalah gizi menuntut para ahli gizi untuk selalu mengupdate diri, turut membantu pemerintah memecahkan masalah gizi serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat .


MASALAH GIZI DAN PERAN AHLI GIZI


Masalah Gizi sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia dan merupakan faktor penentu keberlangsungan-survival suatu bangsa. Kualitas ini dapat dicapai melalui keadaan gizi yang baik dan pendidikan yang baik pula. Sumber daya manusia yang kurang gizi, tidak akan produktif, begitu pula dengan tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan tidak tersedianya tenaga kerja berkualitas, terampil dan berpengetahuan.


Negara dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah sudah tentu tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain Salah satu masalah gizi kurang Indonesia ,yaitu Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) estimasi dari beberapa penelitian yang terserak diperoleh angka 11,4 % studi di Indramayu tahun 1999.


Dampak tingginya angka BBLR ini akan berpengaruh pada tingginya Angka kematian bayi. Sedangkan masalah gizi kurang lainnya yaitu kurang gizi makro seperti kurang kalori protein, dan kurang gizi mikro seperti gangguan akibat kekurangan iodium, anemia kekurangan zat gizi besi serta kekurangan vitamin A. Seseorang yang menderita kekurangan zat gizi tersebut selain berdampak pada peningkatan angka kesakitan juga berdampak pada penurunan kualitas hidup.


Masalah gizi lebih juga merupakan masalah gizi yang sangat erat kaitannya dengan ketidakseimbangan konsumsi gizi mulai dari lahir sampai usia berikutnya. Prevalensi gizi lebih tahun 1997 dengan indikator Index Masa Tubuh (IMT) lebihh dari 25 adalah 30% pada perempuan umur lebih dari 35 tahun dan 20% pada laki laki umur lebih dar 40 tahun.


Menurut hasil penelitian tersebut ada kecenderungan peningkatan nilai IMT sesuai dengan meningkatnya usia. Semua permasalahan yang sangat kompleks ini memerlukan pemecahan dan penanggulangan yang bersifat berlandaskan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu diperlukan tenaga-tenaga gizi yang berpendidikan memadai yang mampu mengembangkan ilmu gizi, melalui penelitian-penelitian dan penerapan hasil temuannya kedalam program-program nyata.


Diharapkan dimasa yang akan datang, permasalahan gizi ini berhasil dipecahkan dengan baik. Adanya organisasi profesi dapat digunakan sebagai wadah atau sarana untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi, selain itu juga berjaring dengan organisasi gizi di luar negeri.


SUMBANGAN PROFESI GIZI DALAM MENANGANI MASALAH GIZI


Sesuai dengan AD/ART serta visi dan tujuan organisasi PERSAGI, ahli gizi sebagai anggota PERSAGI telah memberikan sumbangan pemikiran dalam menanggulangi masalah gizi di Indonesia.


Sumbangan pemikiran anggota PERSAGI dalam pergizian Indonesia antara lain sebagai berikut:
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi Nasional, yang menghasilkan Kebijakan Penentuan Pangan dan Gizi


Temu Pakar Gizi Nasional, yang menghasilkan :
Standarisasi KMS dan Antropometri
Standarisasi Pedoman Umum Gizi Seimbang
Makanan Pendamping Air Susu Ibu
Kurikulum Pendidikan Tenaga Gizi
Pedoman Makan untuk Kesehatan Jantung
Angka Kecukupan Gizi
Penyusunan Kurikulum Sarjana Gizi
Penyusunan Kurikulum Profesi Gizi
Rancangan Undang Undang Praktek Kegizian
Standart Kompetensi Gizi


Selain itu PERSAGI juga aktif bekerjasama dengan organisasi profesi lain secara Nasional maupun Internasional. Didalam negeri PERSAGI bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam menyusun pedoman Tatalaksana Gizi Buruk, program ASI eksklusif, dan membantu melaksanakan Asian Congress of Pediatric Nutrition di Jakarta. Bekerja sama dengan organisasi PERGIZI PANGAN terutama memberi masukan bidang Pangan dan Gizi bagi penentu kebijakan . Beberapa kegiatan PERSAGI yang bersifat Internasional adalah "Asian Congress on Nutrition" pada tahun 1983 dan " The First Asian Congress and Exhibition on Dietetics" tahun 1994 kedua kegiatan tersebut dilaksanakan di Jakarta.


TANTANGAN PROFESI GIZI DALAM ERA GLOBALISASI


Peran PERSAGI dan tuntutan profesi gizi di era globalisasi menjadi lebih luas dan berat. Adanya persaingan bebas yang tidak dapat terbendung menuntut profesionalisme yang kuat, handal, dan tangguh.. Tuntutan ini memaksa profesi gizi untuk bercermin dan berusaha menyetarakan dengan dunia Internasional. Saat ini sudah ada beberapa ahli gizi dari luar negeri yang bekerja di beberapa rumah sakit swasta di Indonesia.


Hal seperti ini tentu saja tidak dapat diabaikan. Tuntutan profesionalisme ini dilandasi oleh adanya kesetaraan tingkat pendidikan secara akademis maupun keprofesian. Salah satu usaha untuk mencapai kesetaraan pendidikan, PERSAGI telah membuat kurikulum sarjana gizi yang telah disepakati oleh oleh beberapa organisasi gizi lainnya seperti PERGIZI PANGAN dan PDGMI (Persatuan Dokter Gizi Medik), saat ini kurikulum tersebut telah digunakan oleh 5 perguruan tinggi di Indonesia ( Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Brawidjaya, Universitas Hasanudin, Universitas Indonusa esa Unggul).


Kompleksitas masalah gizi juga menuntut profesionalisme yang tinggi tentu saja didukung oleh pengetahuan, ketrampilan bahkan sikap profesional yang kuat. Bagi seorang ahli gizi harus dapat menyumbangkan ilmunya dalam mengatasi masalah gizi ganda yang saat ini dihadapi di Indonesia dimana dalam saat bersamaan masalah gizi kurang belum dapat teratasi dengan baik, di lain pihak masalah gizi lebih mulai meningkat dan cukup mengkhawatirkan.


Era globalisasi juga membawa dampak pada derasnya komunikasi dan informasi masuk ke Indonesia dan kita tidak mampu membendungnya, beberapa teknologi yang berkaitan dengan gizi ikut pula menyertainya. Untuk itu para ahli gizi secara profesional juga harus selalu berusaha menapis ilmu pengetahuan dan teknologi dan melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk kemudian di kembangkan dan diterapkan di Indonesia.


Mengacu kepada American Dietetic Association, profesi gizi di Amerika mempunyai ruang lingkup kerja ........ UPAYA PENGEMBANGAN PROFESI GIZI Dalam menghadapi permasalahan gizi dan tantangan era globalisasi dunia PERSAGI melakukan upaya strategis seperti :


Membuat Rancangan Undang Undang Praktek kegizian
Mempersiapkan kurikulum pendidikan profesi gizi
Mempersiapkan Registrasi Dietisien
Mempersiapkan Sertifikasi
Mempersiapkan Lisensi


Saat ini Persatuan Ahli Gizi Indonesia bersama-sama dengan universitas-universitas terkemuka di Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Institusi Pendidikan Gizi Indonesia, bekerjasama erat dalam menata pendidikan dan pengembangan kurikulum profesi gizi. Bagi para sarjana gizi yang akan praktek, diharapkan menempuh program pendidikan profesi gizi terlebih dahulu.


Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi tenaga gizi dan mengantisipasi era globalisasi yang sudah dipelupuk mata serta merupakan keadaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mengacu lepada American Dietetic Association (ADA) profesi gizi di Amerika mempunyai ruang lingkup verja di bidang Industri makanan, Promosi Kesehatan dan Pencegahan Penyakit, Sistem Penyelenggaraan Makanan, Kewirausahaan, Pendidikan dan Terapi Gizi dengan kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi untuk memberikan pelayanan gizi lepada perorangan, kelompok dan masyarakat.


Semua upaya tersebut diatas perla segera direalisasikan agar pengembangan profesi terarah dengan landasan yang kuat, serta adanya perlindungan masyarakat dengan demikian kualitas pelayanan gizi meningkat. PENUTUPKami dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia siap mengupgrade dan mengubah diri menjadi organisasi di profesi yang profesional yang siap memayungi dan mewadahi para Ahli Gizi profesional di Indonesia.


Sumber Bacaan
PERSAGI. Direktori Gizi Indonesia dalam Rangka Mensukseskan Program Perbaikan Gizi Indonesia . Edisi perdana. 2003
Almatsier, S. Perkembangan Akademi Gizi Jakarta. Gizi Indonesia 1985. Volume X no.2.
Soekirman. Ilmu Gizi dan Kemungkinan Perkembangannya di Indonesia. Gizi Indonesia 1985. Volume X, No.2.

HADIRILAH BERAMAI-RAMAI

Senam Massal ............


Dalam Rangka Hari Gizi Nasional ke 56 Persatuan Ahli Gizi Indonesia Kalbar menyelenggarakan SENAM MASSAL dengan instruktur Ahli Gizi berpengalaman dalam melaksanakan SENAM KESEHATAN


Senam Sehat Massal akan diselenggarakan pada :

Hari : Minggu, 2 Maret 2008
Jam : 06.00 - selesai
Tempat : Stadion Sultan Syarief Abdurahman
Jl. A Yani Pontianak


Tema


" Gizi Baik Masyarakat Sehat dan Cerdas "


Gratis ..... !

- Door Prize

- Pemeriksaan Gula Darah

- Pemeriksaan Kadar HB

- Konsultasi Gizi


Contac Person :

1. Melania Hp.081386460417

2. Herkulana Hp. 081345132900

3. Jurianto Hp. 081352009756

4. Didik Hp. 08164980974

Minggu, 24 Februari 2008


Pemetaan Gizi Buruk Dilakukan
Rabu, 11 Juli 2007

Menjabarkan instruksi Wagub Gusnar Ismail, terkait pencarian para balita penderita Gizi Buruk di darah ini.

Sekprov Idris Rahim langsung menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, untuk segera melakukan pendataan dan pemetaan penderita Gizi Buruk ditingkat seluruh Kabupate/Kota yang ada di Provinsi ini.

Penegasan ini dikatakan Idris Rahim saat membuka rapat koordinasi Dinas dan Institusi kesehatan se-Provinsi Gorontalo, dimana masalah penanganan gizi buruk ini, menjadi salah satu item masalah utama yang ikut dibahas dalam rakor tersebut.

Dikatakannya, upaya memerangi dan menangani masalah gizi buruk ini, harus dilakukan secara maksimal dan untuk itu dibutuhkan data akurat mengenai penyebaran penyakit gizi buruk yang ada di daerah ini. “olehnya penting, untuk melakukan pemetaan penyebaran penderita gizi buruk yang ada di Provinsi ini dan olehnya lewat rapat koordinasi dinas kesehatan ini,. Dapat dibicarakan mengenai upaya pemetaan tersebut,” ungkapnya.

Menariknya lagi, terkait dengan instruksi Wagub ini, pihak Diskesprov justru sudah langsung action melakukan pendataan di lapangan dan dalam waktu beberapa hari data yang dimaksud sudah bisa dirampingkan.

Salah seorang pejabat yang terkait dengan penanganan masalah gizi di Diskesprov Gorontalo, Arifasno Napu saat dikonfirmasi koran ini, mengungkapkan bahwa, untuk melakukan pendataan para penderita gizi buruk ini, Mengungkapkan bahwa, untuk melakukan pendataan para penderita gizi buruk ini bahwa, puhaknya sudah tidak terlalu sulit lagi karena selama ini data tersebut, sudah ada ditingkat Kabupaten/Kota yang diperoleh dari data seluruh seluruh puskesmas yang ada.

“Jadi kita hanya tinggal melakukan pemuktahiran data, sesuai dengan realitas dilapangan saat ini, dan itu sekarang sudah dilakukan, dimana dalam beberapa hari ini diperkirakan akan segera rampung,” ungkapnya (sumber berita Gorontalo Post).


Gizi Buruk Sebabkan 3,5 Juta Kematian Anak per Tahun
Kamis, 17 Januari 2008 17:51 WIB LONDON, KAMIS -


Gizi buruk ternyata masih menjadi masalah global. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan. Masalah kurang gizi ini dialami anak-anak sejak masih dalam kandungan.Seperti dilaporkan jurnal The Lancet, mayoritas kasus anak-anak serta ibu hamil yang kekurangan gizi terdapat di 20 negara kawasan Afrika dan Asia. Namun begitu, 25 persen dari kematian ini dapat dicegah melalui pencegahan sederhana seperti memberi ASI dan pemberian suplemen vitamin A.Laporan khusus dalam The Lancet juga menyebutkan bahwa kasus gizi buruk pada bayi dapat menimbulkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki saat mereka beranjak dewasa. Anak-anak yang tengah menderita kurang gizi cenderung memiliki postur tubuh yang lebih pendek dan tidak berprestasi saat sekolah. Kenyataan ini jelas dapat menurunkan potensi ekonomi dan justru mengekalkan lingkaran kemiskinan.Sebuah riset yang dilakukan secara terpisah telah memberi bukti meyakinkan untuk beberapa ukuran yang mungkin dapat memberi dampak besar dalam menurunkan tingkat kematian jika diimplementasikan dengan tepat. Menurut riset tersebut, pemberian suplemen Vitamin A dan seng serta menganjurkan wanita untuk memberi ASI setidaknya pada enam bulan pertama dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan hingga 25 persen. Namun menurut para ahli, respons dunia internasional terhadap kematian anak akibat gizi buruk telah ''terpecah dan disfungsional''.Beberapa anak meninggal karena mereka memang tidak mendapatkan makanan yang cukup. Namun isu ini menjadi kompleks untuk anak-anak yang menderita gangguan pertumbuhan dan penyakit yang berhubungan dengan defisiensi beberapa vitamin dan mineral penting.Masalah ini dapat diperburuk dengan sanitasi kotor yang menyebabkan penyebaran penyakit infeksi. Profesor Zulfiqar Bhutta, dari Departmen Pediatric dan Kesehatan Anak di Universitas Aga Khan, Pakistan, memperkirakan sekitar 1,4 juta anak meninggal tiap tahun akibat kurang mendapat ASI. Menurutnya, di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia kurang dari sepertiga anak di bawah usia enam bulan mendapat ASI secara ekslusif .Dr Bruce Cogill ahli nutrisi dari Badan PBB Unicef mengatakan isu global tentang gizi buruk saat ini merupakan problem yang harus segera diatasi. Namun sayangnya, program nutrisi ironisnya masih kurang ditangani serius ketimbang isu kesehatan global lainnya seperti AIDS.AC Sumber: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.17.17511399&channel=1&mn=20&idx=97

Gizi Buruk Itu Bencana!


Semakin sering kita mendengar dan melihat kasus gizi buruk yang menimpa balita-balita di berbagai daerah. Boleh jadi, berita tentang kasus gizi buruk terus menerus menghiasi layar kaca televisi, sejak berita terpagi hingga berita tengah malam.

Sebagai gambaran, di Nusa Tenggara Barat (NTB), sepanjang tahun 2005 dinas kesehatan setempat mencatat 3565 kasus gizi buruk yang menimpa balita di Provinsi tersebut, 13 di antaranya bahkan meninggal dunia. Data lainnya menyebutkan, di provinsi tersebut terdapat 49.000 balita menderita gizi buruk. Sementara tetangganya, NTT, penderita gizi buruk sebanyak 463.370 balita. Dari jumlah tersebut, 51.547 balita dalam kondisi gizi kurang dan 10.897 orang dalam kondisi gizi buruk. Masih di Provinsi yang sama, per awal Juni 2005 terdapat 119 kasus busung lapar yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Jumlah tersebut terdiri dari 113 penderita marasmus (kekurangan karbohidrat), 5 orang penderita kwashiorkor (kekurangan protein), dan 1 orang penderita marasmus-kwashiorkor.


Tak hanya di dua Provinsi yang jauh di Timur, bahkan di wilayah yang dekat dengan pusat pemerintahan pun terdapat kasus gizi buruk, seperti di Jakarta dan Banten. Di Cilincing, Jakarta Utara, misalnya, lebih dari 4000 balita menderita gizi buruk, tak sedikit di antaranya yang sudah meninggal dunia. Belum di beberapa daerah lainnya di Jakarta. Banten, salah satu Provinsi baru yang letaknya tak jauh dari pelupuk mata pemerintah pusat pun terdapat banyak kasus gizi buruk. Yang lebih mencengangkan, disinyalir Banten merupakan wilayah dengan kasus gizi buruk tertinggi di Asia. Sehingga World Health Organization (WHO), badan kesehatan dunia harus menempatkan perwakilannya di Provinsi berpenduduk 6,5 juta tersebut. Kabupaten Lebak, salah satu kabupaten yang dianggap paling banyak ditemukan kasus gizi buruk di Banten. Kasus serupa juga ditemui di Jawa Barat dan Jawa Tengah.


Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2005 di Indonesia tercatat 1,67 juta kasus gizi buruk. Meski data yang dikeluarkan Care International Indonesia menunjukkan angka yang lebih mengagetkan, yakni sepuluh kali dari angka yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan itu.


Sayangnya, penanganan kasus gizi buruk ini terkesan lambat oleh pemerintah. Seolah gizi buruk bukanlah sebuah ancaman, boleh jadi gizi buruk dan busung lapar dianggap tak berbahaya dan bukan merupakan sebuah bencana. Sungguh ironi jika ternyata ada anggapan demikian, karena sesungguhnya gizi buruk bukan sekadar bencana, tetapi juga sebuah malapetaka yang akan berkepanjangan sekaligus mengancam masa depan bangsa.


Penanganan dan perhatian dari pemerintah terkesan tidak serius, kasus gizi buruk ini pun sedikit luput dari perhatian masyarakat kebanyakan. Sehingga ketika kasus ini berkali-kali muncul di televisi atau surat kabar, masyarakat baru tercengang, seolah tak percaya ada anak Indonesia menderita gizi buruk. Padahal, kasus ini sudah berlangsung sangat lama dan bertahun-tahun.


Tak seperti pengangan bencana alam yang serius, pemerintah dan segenap masyarakat begitu cepat mengirimkan bantuan bagi para korban bencana. Tidak demikian dengan kasus gizi buruk, tak terlihat iring-iringan kendaraan memberikan bantuan pangan, tak terlihat tim medis khusus layaknya yang dikirimkan ke lokasi bencana alam, tak nampak antusias masyarakat dan ribuan elemen masyarakat bahu membahu menyorongkan bantuan, baik melalui lembaga kemanusiaan atau datang langsung ke lokasi bencana.


Padahal, sebuah ancama lost generation terpampang jelas di depan kita. Bangsa Indonesia diyakini akan kehilangan generasi-generasi yang cerdas, mandiri, tangguh dan tak berketergantungan. Jika gizi buruk tak ditangani serius, sebagian generasi bangsa ini akan menjadi generasi yang loyo, memiliki keterbelakangan mental, tak mandiri dan selalu berketergantungan. Bahkan bisa disebut, generasi yang dihasilkan dari kasus-kasus gizi buruk ini adalah mereka yang kelak hanya akan menjadi beban negara. Sebuah harga mahal yang harus dibayar negeri ini, lebih mahal dari dari biaya penyelamatan yang sebenarnya bisa kita mulai sejak dini.

Hubungan ”Otak Kosong” dengan Gizi Buruk


INDONESIA harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi, 80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada usia 0-2 tahun. Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu. Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.Menurut ahli gizi Ir. Tatang S. MSc, seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat memasuki sekolah.Hal itu dibenarkan oleh Dr. Soesilawati dari Rumah Sakit Mitra yang berpendapat bahwa perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh faktor makanan yang dikonsumsi. ”Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja,” ujar Soesilowati menjelaskan.Gizi Pendukung OtakAsam lemak esensial omega 3 merupakan zat yang berperan vital dalam proses pertumbuhan sel-sel neuron otak untuk bekal bayi yang dilahirkan. Ibu hamil masa kini dapat mengonsumsinya melalui banyaknya produk susu khusus ibu hamil. Asam alfa linoleat (LNA), eikosapentaetonat (EPA) serta dohosaheksaenoat (DHA) adalah tiga bentuk asam omega 3 yang telah masuk dalam proses elongate (dipanjangkan) dan desaturate (diubah menjadi tidak jenuh).”Produk-produk susu yang mengklaim dirinya mengandung DHA atau omega 3 perlu diuji dulu secara klinis untuk membuktikan kebenarannya. Mungkin memang produk itu mengandung zat yang disebut tapi tentu hanya dalam jumlah kecil saja,” komentar Tatang. Ia menganjurkan agar baik anak-anak maupun ibu hamil lebih banyak mengonsumsi sumber-sumber alami dari semua gizi yang dibutuhkan tubuh. Asam lemak omega 3 banyak terdapat dalam ikan atau minyak ikan. Begitu juga protein yang terdapat pada kacang-kacangan, telur, dan ikan.Sementara zat besi tidak kalah penting dalam menunjang kerja otak. Kekurangan zat besi bisa mengurangi produksi sel darah merah. Remaja perempuan yang kurang mengonsumsi zat besi cenderung mempunyai IQ rendah, demikian hasil riset terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari King’s College, London. Ada hubungan signifikan antara rendahnya level hemoglobin dengan performance mental seseorang. Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang memainkan peran penting dalam transportasi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Maka zat besi menjadi komponen esensial bagi hemoglobin. Tanpa mendapat tambahan zat besi maka tubuh kita tidak mampu menghasilkan jumlah sel darah merah yang cukup. Inilah mengapa perempuan hamil dan perempuan pekerja membutuhkan asupan zat besi. Perempuan hamil memerlukannya dua kali lebih banyak dari saat dirinya tidak hamil. Sedangkan perempuan pekerja membutuhkan tambahan zat besi karena di samping melakukan kegiatan sehari-hari yang lumayan keras, ada masa menstruasi yang menyebabkan mereka terancam anemia.Riset yang dilakukan Dr. Michael Nelson dari Inggris membuktikan bahwa perempuan pekerja yang menderita anemia mempunyai poin IQ lebih rendah daripada yang tidak menderita anemia.”Untuk mendapatkan zat besi secara alamiah bisa dengan cara memakan sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan dan ikan. Jika memang mampu akan lebih baik didukung dengan asupan zat besi yang sudah banyak dijual bebas,” ujar Soesilowati.Sementara Dr. Nelson menjelaskan bahwa korelasi antara zat besi dengan kecerdasan sangat sederhana. Kurangnya zat besi akan mengurangi jumlah hemoglobin. Otomatis hal ini membuat suplai oksigen terhambat ke otak dan membuat otak tidak bisa bekerja secara optimal. Bagaimanapun juga jumlah enzim yang mengatur sinyal transmisi ke otak juga bergantung pada zat besi. ”Penyerapan zat besi akan lebih efektif jika kita juga mengonsumsi vitamin C dalam jumlah cukup,” ujar Soesilowati.Asupan GiziBanyaknya produk suplemen vitamin yang kini beredar secara bebas bisa berdampak baik sekaligus berdampak buruk. Menurut Tatang, suatu produk suplemen harus menjalani uji klinis dulu sebelum dipasarkan. Ia menegaskan agar kita tidak terlena begitu saja dengan rayuan iklan yang terlalu bombastis.Tapi di sisi lain produk suplemen yang memang bisa dipercaya kebenarannya sangat berguna bagi kebanyakan orang yang tidak sempat mendapatkan gizi tersebut dari makanan sehari-hari. ”Lebih baik kalau berbagai kebutuhan gizi didapat dari makanan langsung, bukan asupan atau suplemen yang dijual bebas. Sebab tak seorang pun yang bisa menjamin keamanannya,” tambah Soesilawati. ”Kecuali kalau asupan itu memang dianjurkan oleh dokter atau didapat dari dokter.”Sedangkan anak usia 0-2 tahun sebaiknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). Seperti yang dikatakan Tatang bahwa ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan dalam perkembangan otak anak.Banyak produk susu kaleng atau susu formula yang dalam iklan disebutkan mengandung asam linoleat, DHA dan sebagainya. Namun sampai detik ini tidak ada bukti yang bisa berkata bahwa susu formula mampu menyamai khasiat ASI.(mer)